FIQH PEREMPUAN KEKINIAN DAN KEINDONESIAAN

Mukhlis Mukhtar

Sari


Women's fiqh comes from the naqli and aqli arguments, so in essence women's fikhi in the sense of understanding the existence of women is the result of ijtihad (ijtihādȋ fiqh). Therefore, female fikhi in the present era is certainly different from the classical fikhi of women. Likewise, women's fiction in Arab countries is certainly different from women's fikh in Indonesia. In the present era women fikhi provide equal opportunities proportional to the types of women and men to obtain rights and obligations that are balanced (fair) in their lives.

Fiqh perempuan bersumber dari dalil naqli maupun aqli, maka secara esensial fikhi perempuan dalam artian pemahaman tentang eksistensi kaum perempuan merupakan hasil ijtihad (fiqh ijtihādȋ). Oleh karena itu, fikhi perempuan di era kekinian tentu berbeda dengan fikhi perempuan masa klasik. Begitu juga, fikhi perempuan di negara arab tentu berbeda dengan fikhi perempuan di negara Indonesia. Di era kekinian fikhi perempuan memberikan peluang yang sama secara proporsional kepada jenis perempuan dan laki-laki untuk memperoleh hak-hak dan kewajiban yang seimbang (adil) dalam kehidupannya.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Barney. G. O., (ed.), The Unfinished Agenda. New York: Thomas Y. Crowell Company, 1977.

al-Bukhari. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhari, dalam Mauṣū’ah al-Ḥadȋṡ al-Syarȋf [CD ROM], hadis no. 2722 dan no. 4073

Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra, 2001.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet.IX Jakarta: Balai Pustaka, 1997.

al-Hanbali. Abu al-Falah Abd al-Hayy bin al-‘Imad.al, Syadzrat al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab, Jilid I. t.tp: Dar al-Fikr, 1399 H.-1979 M.

Haq. Hamka, Filsafat Ushul Fiqhi. Ujung Pandang: Yayasan al-Ahkam, 1998

http://www.pta-jakarta.go.id/artikel/66-dr-hj-aisyah-ismail/324-fiqh-perem-puan. html, diakses pada tanggal 16 Mei 2014

Ibnu Zakariah. Abu Husain Ahmad bin Faris, Maqayis al-Lughah, jus IV. Bairut: Daral-jail. 1981

Instruksi Presiden, Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2001.

Ismail. M. Syuhudi, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1994.

Muhammad. Husein, Fiqh Perempuan. Yogyakarta: LkiS, 2001

al-Munawwir. Ahmad Warson, kamus al- munawwir Arab Indonesia. Edisi II, Cet XXV Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Musthafa. Ibnu, Keluarga Islam, Menyong-song Abad 21. Cet. II; Bandung: Al-Bayan, 2003.

Al-Nawawi, Uqud al-Lujain fi Huquq al-Zaujaini (Semarang: Reproduksi Usaha Keluarga, 1975

Republik Indonesia, Undang-Undang Hak Asasi Manusia, pasal 45 s/d 51

Sanusi. Nur Taufiq, Fikih Rumah Tangga, Perspektif Alqur’an dalam Menge-lola Konflik Menjadi Harmoni. Cet. I; Jakarta: Elsas, 2010

Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

Zahra. Abu Ushul al-Fiqh. Mesir: Dar al-Fikr al-Arabiy,t.th.

al-Zamakhsyari. Abu Qasim, Al-Kasyaf an Haqaiq al-Tanzil wa Ujun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil, Juz I. Baerut: Dar al-Kitab al-Arabi, t.th.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.