DINAMIKA MASYARAKAT DAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Mukhtar Nuhung

Sari


This article addresses the issue of the dynamics of society and culture in Islamic education. The results of the discussion can be understood that the community is a large or small group, consisting of several people, who by themselves because they are classically related and influence each other. In the sociology approach, it is seen that humans as members of groups or communities (not as individuals who are separated from their class or society) interact with each other that give birth to culture. Culture is the result of human activity and inner creation (reason), such as beliefs, arts and customs. Customs are born through educational processes that occur in community interactions both formally and informally. Thus, humans are very closely related to culture, the relationship is inseparable. When one is separated from the other, each form disappears. Society is a place for culture, as well as a pile of land growing in a tree, if humans are taken as a sample then spirit as culture and humans as a society. Every human being has culture and culture, there are people. Both are dwitunggal, this is what forms socioculture.

Artikel ini membahas masalah dinamika masyarakat dan budaya dalam pendidikan islam. Hasil pembahasan dapat dipahami bahwa Masyarakat adalah golongan besar atau kecil, terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Dalam pendekatan sosiologi memandang bahwa manusia sebagai anggota golongan atau masyarakat, (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakatnya) yang saling berinteraksi satu sama lain yang melahirkan kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Adat istiadat lahir melalui prose pendidikan yang terjadi dalam interaksi masyarakat baik secara formal maupun informal. Dengan demikian, manusia sangat erat  kaitannya dengan kebudayaan, hubungan itu tidak dapat dipisahkan. Apabila yang satu dipisahkan dari yang lainnya, lenyaplah wujud masing-masing. Masyarakat adalah wadah kebudayaan, seperti pula setumpuk tanah tumbuh sebatang pohon, apabila manusia diambil suatu sampel maka ruh sebagai kebudayaan dan manusia sebagai masyarakat. Tiap manusia ada kebudayaan dan kebudayaan ada masyarakatnya. Keduanya merupajan dwitunggal, inilah yang membentuk ungkapan sosiobudaya.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Budiawati Yulia, Ilmu Budaya Dasar, Jakarta: Universitas terbuka, 2006

Darajat Zakiyah, Dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara, 2004

Departemen Agama, Al-Qur’an dan ter-jemahannya, Jakarta: CV. Atlas,1998

Gazal Basidi, Azas kebudayaan Islam, Jakarat: Bulan Bintang,1985

Khatimah Husnil. Kepribadian dan kebuda-yaan. Semarang: Aneka Ilmu, 2009

Nata Abuddin H, Kapita selekta pendidikan Islam. Bandung: Angkasa, 2003

Raji’in dalam buku H. Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa 2007

Sabiq Sayid, Aqidah Islam (Ilmu Tauhid). Bandung: Diponegoro,1986

Shadili Hasan, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta,1993

Tim Merah Putih, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Merah Putih, 2007


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.