MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU (Analisis terhadap Kewajiban dan Tanggung Jawab)

Dr. Zainuddin Hamkah

Sari


Every individual is not automatically able to realize his desires, but humans are forbidden to forget God while in the effort to realize these desires in the form of service obligations and responsibilities. For this reason, humans are given the freedom to choose between good and bad things. God himself has given trust to humans so that people always choose the good. God has made "freedom" an "ethical foundation" for humans to do. However, it turns out that there are many people who are unable to maintain God's trust; Most humans often choose bad deeds. The failure of religious obligations and irresponsibility is a form of human error in choosing freedom, and at the same time betrays God's trust in humanity. The failure of humans to fulfill their obligations and responsibilities is caused by the shortsightedness and narrowness of the human mind, and because of the shortsightedness and narrowness of the mind, humans often lose moral balance. In a long time, shortsightedness and narrowness of the mind will make the "conscience" of humans frozen, as a result humans increasingly away from the nature of events.

Setiap individu tidak secara otomatis mampu merealisasikan keinginannya, namun manusia dilarang melupakan Tuhan selama dalam usaha merealisasikan keinginan tersebut dalam bentuk pengabdian kewajiban dan tanggungjawab. Untuk itu manusia diberi kebebasan memilih antara hal yang baik dan yang buruk. Tuhan sendiri telah member kepercayaan kepada manusia agar manusia senantiasa memilih yang baik. Tuhan telah menjadikan “kebebasan” sebagai “landasan etika” bagi manusia dalam berbuat. Akan tetapi ternyata banyak orang yang tidak mampu memelihara kepercayaan Tuhan tersebut; manusia kebanyakan sering memilih perbuatan yang buruk. Tidak terlaksananya kewajiban-kewajiban agama serta sikap tidak bertanggungjawab adalah bentuk kesalahan manusia dalam memilih kebebasan, dan itu sekaligus menghianati kepercayaan Tuhan kepada umat manusia. Gagalnya manusia menunaikan kewajiban dan tanggungjawab disebabkan oleh kepicikan dan kesempitan pikiran manusia, dan karena kepicikan dan kesempitan pikiran itu, manusia sering kehilangan keseimbangan moral. Dalam waktu yang lama, kepicikan dan kesempitan pikiran akan menjadikan “hati nurani” manusia beku, akibatnya manusia semakin jauh dari fitrah kejadiannya.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Achmad Charris Zubair, Kuliah Etika. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995).

Ahmad Mahmud Shubhi, Filsafat Etika, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001).

Amsal Bachtiar, Filsafat Agama, (Jakarta : Logos, 1998).

Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, alih bahasa, Ali Nur Zaman, (Yogyakarta: Qalam, 2001).

Fazlur Rahman, Islam, alih bahasa, Ahsin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 2000).

_______,Major Themes of the Quran, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1999).

_______,Tema Pokok al-Qur’an, diter-jemahkan oleh Anas Mahyuddin. (Bandung: Pustaka, 1980).

Al-Ghazali, al-Ihya’ Ulum al-Din, vol. III.

Ibn. Al-Murtadha, al-Minyah al-‘Amal, (Thomas Arton, 1316).

Jeffey C. Alexander, Twenty Lectures Sociological Theory Since World War II (Newyork: Columbia University Press, 1987)

Muhammad Abu Zahra, Ushul al-Fiqh, (ttp., Darul Fikr al-Arabi, 1958).

Muhammad Fazlur Rahman Anshori, The Qur’anic Foundations and Stucture of Muslim Society, (Pakistan: The World Federasion of Islamic Missions Islamic Center, 1973).

Mukti Ali, Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini, (Jakarta : Rajawali Pers, 1987).

Quraisy Syihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung :Mizan, 2001)

al-Sarraj al-Thusi, al-Luma’ fi al-Tasawuf, (Mesir: Dar al-Kutub al-Hadisah, 1960).

Al-Silmi, Thabaqat al-Sufiyah.

Al-Suhrawardhi, ‘Awarif al-Ma’arif, jilid IV., (Maktabah Subaihi).

Al-Syahrastani, Kitab al-Mihal wa al-Nihal, (Kairo: tp., 1951).


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.