EKSISTENSI LEMBAGA EKONOMI SYARIAH DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI UMAT

Dr. Djaenab

Sari


Abstrac:

Sharia economics is an economy based on divine revelations that were revealed for the benefit and welfare of mankind. Its presence as a solution based economic system is a tangible manifestation that sharia values can be implemented in all aspects of life, including the economiy. This is evidenced by the development of islamic economic institutions, both bank and non-banks. Sharia economy as an economic system that frees itself from the practice of ribā, maesyir, and gharar transactions which is one of the causes of the destruction of the globaleconomic order, comes with instruments that can provide solutions for the creation of economic development of the people that will have an impact on the welfare of society, both materially and spiritually. For example; ribā transactions are replaced with “profit and loss sharing” instruments with the principles of mudhārabah (trustee profit sharing) dan musyārakah (joint venture profit sharing), maesyir transaction are replaced with anta rādin minkum instruments (the willingness of the transacting parties), gharar transaction are repalced with open transactions. Furthermore, in its operational framework, the instrument is integrated into the five pillars of the islamic economic fundation, namely; Tauhīd, ‘Adl, Nubuwwah, Khilāfah, Ma’ad.

Ekonomi syariah adalah ekonomi berdasarkan wahyu ilahi yang diturunkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia. Kehadirannya sebagai sistem ekonomi berbasis solusi merupakan wujud nyata bahwa nilai-nilai syariah dapat diterapkan di semua aspek kehidupan, termasuk ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya lembaga-lembaga ekonomi syariah, baik bank maupun non bank. Ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi yang membebaskan diri dari praktik transaksi riba, maesyir, dan gharar yang menjadi salah satu penyebab hancurnya tatanan ekonomi global, hadir dengan instrumen yang dapat memberikan solusi bagi terciptanya pembangunan ekonomi umat. yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, baik material maupun spiritual. Sebagai contoh; transaksi riba diganti dengan instrumen profit and loss sharing dengan prinsip mudhārabah (bagi hasil wali amanat) dan musyārakah (bagi hasil usaha bersama), transaksi maesyir diganti dengan instrumen anta rādin minkum (kehendak para pihak yang bertransaksi), gharar transaksi diganti dengan transaksi terbuka. Selanjutnya, dalam kerangka operasionalnya, instrumen tersebut diintegrasikan ke dalam lima pilar fundamental ekonomi syariah, yaitu; Tauhid, ‘Adl, Nubuwwah, Khilāfah, Ma’ad.


Kata Kunci


ZIS, Mudhārabah, Musyārakah, Qard al-hasan

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.