Gap Analisis Pengelolaan Antibiotik di Apotik dalam Wilayah Pengawasan BBPOM di Makassar Periode Januari 2024 – Juni 2025
DOI:
https://doi.org/10.59638/junomefar.v5i1.2163Keywords:
Antibiotik, Apotek, pengawasan, Resistensi antibiotikAbstract
Resistensi antibiotik (Antibiotics Resistance/AMR) merupakan masalah kesehatan global yang diperburuk oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Apotek sebagai fasilitas pelayanan kefarmasian memiliki peran penting dalam pengendalian distribusi dan penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan pengelolaan antibiotik di apotek wilayah pengawasan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar berdasarkan hasil pengawasan periode Januari 2024–Juni 2025. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif dengan analisis data sekunder dari hasil pemeriksaan 176 apotek. Hasil menunjukkan bahwa cakupan pengawasan masih rendah (11%), penyerahan antibiotik tanpa resep dokter masih tinggi (38%), pencatatan stok antibiotik belum optimal (56,8%), serta lemahnya supervisi apoteker. Selain itu, proporsi penjualan antibiotik golongan Watch tanpa resep dokter mencapai lebih dari 85% pada beberapa jenis. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ketentuan regulasi dan praktik di lapangan yang berpotensi mempercepat terjadinya resistensi antimikroba. Diperlukan penguatan pengawasan berbasis risiko, peningkatan peran apoteker, serta pembinaan dan penegakan regulasi yang konsisten
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Novem Medika Farmasi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

